serial_silat Kutipan Sin Tiauw Hiap Lu (6)

by: Kur

Halaman 200:

"Soen Popo", mendadak terdengar satu suara merdu di luar kelambu. "Kenapa kau kerja anak orang nangis sampai begitu?"

Yo Ko angkat kepalanya dan lihat satu tangan yang putih bagaikan batu pualam sedang menyingkap kelambu, dan di lain saat, seorang wanita muda sudah berdiri di hadapannya. Ia mengenakan jubah warna putih, usianya belum cukup dua puluh tahun dan kecuali rambutnya yang hitam jengat, kulitnya putih meletak, seakan-akan tiada darahnya. Dari badannya nona itu keluar semacam wewangian luar biasa, sehingga Yo Ko merasa ia sedang berhadapan sama bidadari dari kayangan. Mukanya si bocah jadi berubah merah. Dia berhenti menangis dan tundukkan kepalanya.

"Aku sudah habis daya", kata Soen Popo. "Cobalah kau yang membujuk".

Si nona mendekati dan pegang janggutnya si bocah. Yo Ko bergidik sebab tangan itu dingin seperti es. "Tak apa-apa", kata nona itu. "Kau sudah minum madu Giokhong, setengah harian juga sudah sembuh. Anak, siapa namamu?"

Yo Ko kembali angkat kepalanya dan di lain saat mata kebentrok mata. Ia merasa wanita itu cantik luar biasa, akan tetapi, dalam kecantikan itu terdapat kedinginan yang aneh. "Apakah ia setan atau bidadari?" katanya di dalam hati. Ia jadi bengong dan tak jawab pertanyaan orang.

"Inilah Liong tjietjie, majikan dari tempat ini", kata Soen Popo sembari mesem. "Jawablah segala pertanyaannya!"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s